Oleh madrasah

Risalah ini adalah cuplikan (fragmen) dari kitab sejarah dan biografi, ditulis oleh seorang ulama besar, mantan mufti kerajaan Johor Bhaharu Malaysia Sayyid Al Allamah Alwi bin Tohir Al haddad. Buku ini membahas tentang sejarah, biografi dan prilaku guru beliau Al habbib Al Imam Ahmad bin hasan Al athos dengan judul : Uqudu Al Mas” untaian untaian intan. Kutipan ini adalah dari jilid satu  P. 65 – 75, terbitan tahun 1368 H / 1949 M.

Pada masa hidup penulis kira kira sebelum perang duni kedua rupanya mulai tersebar ditengah tengah golongan Alawiyyin faham syi’ah Imamiyah, dan rupanya ada ditengah tengah mereka tokoh yang menuduh bahwa pendahulu pendahul alawiyyin (para salaf) adalah penganut madzhab syiah imamiyah.

Oleh karena itu, maka penulis didalam kitabnya itu merasa perlu mebahas, dengan agak luas dasar dasar aqidah alawiyyin sejak nenek moyang mereka hingga sekarang, dengan mengemukakan bukti bukti dan dalil dalil yang cuup meyakinkan , kemudian beliau menyangga tuduhan yag keliru bahwa golongan alawiyyin sejak dahulu adalah penganut madzhab syia’ah imamiyah. Sanggahan ini memang sangat perlu karena ada orang orang baik dari golongan alwiyyin sendiri maupun dari luar golongan ini telah mempercayai tuduhan itu,  terutama mereka yang kurang luas pengetahuannya tentang sejarah alawiyyin.

Apa yang pernah terjadi pada masa hidup penulis (Sayyid Alwi bin tohir Al haddad) ini berulang lagi, bahkan dengan skup yang lebih luas. Hal ini disebabkan oleh terjadinya revolusi iran. Revolusi ini telah membuat semua kaum muslimin bangga dan kagum dan ini wajar karena merupakan pertama kali dalam sejarah modern sejak tumbangnya hilafah ustmaniyah di Turki gerakan yang berideologi (berfaham) islam dapat tampil kepermukaan dan berhasil meraih tumpuk pimpinan Negara. Namun revolusi ini kemudian tampil sebagai revolusi syi’ah dan digunakan sebagai sarana untuk mempropagandakan madzhab ini dengan program export revolusi islam.

Dengan demikian maka banyaklah kalangan angkatan muda, orang orang yang tidak hanya mengagumi dan terpesona oelh revolusi iran, melainkan telah mengikuti faham syiah imamiyah, meninggalkan madzhab yangtelah mereka ikuti sejak pendahulu pendahulunya. Golongan alawiyyin terutama memang sangat mudah untuk dipengaruhi oleh faham ini, sehingga tanpa mempelajari dan mendalami ajaran madzhab ini secara serius mereka telah hanyut terbawa arus meninggalkan madzhab dan perilaku salaf (pendahulu pendahulu mereka ). Dengan demikian timbullah sempalan baru ditengah ummat ini pada umumnya dan ditengah golongan alwiyyin pada hususnya dan terpisahlah mereka dari “Assawadul a’dzom” , yaitu mayoritas umat ini yan dipegang teguh dan sangat dipelihara oleh salaf (pendahulu kita) agar kita tidak terpisah dari mereka, sebab golongan inilah yang ditentukan sebagai “Al firqoh Annajiyah” yaitu golongan yang selamat di akhirat  sesuai dengan hadist nabi SAW” dengan timbulnya perpecahan dan selisih faham ini kita umat islam makin menjadi lemah. Tenaga dan fikiran yang semestinya kita kerahkan untuk hal hal positif dalam perjuangan umat ini menghadapi musuh musuh yang dating dari luar  telah menjadi terserak serak dan tercabik cabik untuk mengahadapi perselisihan intern diantara kita yang sangat merugikan perjuangan umat ini secara keseluruhan.

Maka untuk menyanggah tuduhan  bahwa salaf Al alawiyyin sebagai penganut madzhab syiah imamiyah , perlu rasanya menurut hemat kami untuk menyalin dan menyebarluaskan tulisan seorang tokoh alawiyyin yang sangat ahli baik dalam bidang sejarah maupun dalam semua cabang ilmu agama dan telah diakui keahliannya itu oelh semua pihak baik dalam ilmu , maupun dalam prilaku selama hidup. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan kedudukan tertinggi disisinya. Amin. Bagian ini disalin dengan harapan semoga kebenaran kebenaran yang diuraikan ulama’ besar lagi terpercaya ini dapat meyakinkan hati dan pikiran orang yang semula merasa ragu, baik dari kalangan alawiyyin sendiri maupun dari pihak pihak yang lain, untuk kemudian kembali bersatu pada mengikuti jejak dan langkah salaf kita yang benar dan murni itu.

“ Dan ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah jalan itu dan janganlah mengikuti jalan jalan yang lain karena jalan jalan itu akan menceraiberaikan kamu dari jalannya yang demikian diperintahkan kepadamu agar kamu bertaqwa”

Habib Al qutub Abdullah bin Alwi Al haddad Ra berkata : hendaknya anda membentengi akidahmu (imanmu), memperbaiki dan meluruskan sesuai dengan jalan yang di tempuh oleh golongan yang selamat di akhirat (Al firqoh Annajiyah) golongan ini terkenal dikalangan kaum muslimin dengan sebutan golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka adalah orang yang berpegang teguh dengan cara cara yang dilakukan oleh Rosulullah dan para sahabat sahabatnya. Apabila anda perhatikan dengan pikiran yang sehat dan hati yang bersih nash nash Al Qur’an dan sunnah yang berhubungan dengan keimanan, kemudian anda pelajari perilaku para salaf baik sahabat ataupun tabi’in , maka anda akan tahu dan yakin bahwa kebenaran akan berada di fihak mereka yang terkenal dengan sebutan golongan Al Asy’ariyah, yaitu pengikut Abul Hasan Al Asy’ari yang telah menyusun kaidah kaidah (keyakinan) gologan yang berada di pihak yang benar serta telah meneliti dalil dalilnya. Itupulalah aqidah yang telah disepakati oleh para sahabat nabi serta generasi generasi berikutnya dari para tabiin yang sholeh dan itupulalalah aqidah orang orang yang mengikuti kebenaran dimana saja dan kapan saja. Aqidah dan keyakinan itu juga dianut oleh semua ulama’ tashowwuf, seperti diriwayatkan oleh Abul Qosim Al Qusyairi dalam risalahnya.

Al hamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah memberi kita taufiq dan menjadikan aqidah ini sebagai aqidah kita dan aqidah saudara saudara kita, semua Al Alawiyyin para shadah Al Husainiyyin (keturunan Sayyidina Husain bil Ali bin Abi tholib  Ra)  serta aqidah datuk datuk kita sejak Rosulullah hingga kini.

Al Imam Al muhajir, kakek para sadah al alawiyyin, yaitu imam ahmad bin Isa Bin Muhammad Bin Ali Bin Imam Ja’far Ashodiq setelah memperhatikan munculnya berbagai macam bid’ah dan berkecamuknya berbagai macam fitnah serta perselisihan faham di negeri Irak, beliau lalu berhijrah meninggalkan negeri ini berpindah pindah dari satu negeri ke negeri yang lain hingga sampai ke hadraumaut di Yaman, kemudian beliau tinggal di negeri ini sampai wafat. Maka Allah telah memberkahi keturunannya sehingga terkenallah banyak tokoh dari keluarga ini dalam ilmu, ibadah , ma’rifat dan kewaliyan, mereka tidak mengalami apa yang dialami oleh golongan golongan ahlul bait yang lain dengan mengikuti berbagai bid’ah dan faham yang sesat. Semua itu adalah berkat niat yang suci Imam Al Muhajir yangtelah melarikan diri dari fitnah, demi menyelamatkan agama dan aqidahnya dari pusat pusat fitnah. Semoga Allah membalas jasa baik imam ini dengan sebaik baik balasan atas jasa seorang ayah terhadap anak cucunya, semoga pula Allah mengangkat derajatnya bersama datuk datuknya yang mulia di surga illiyyin serta memberi kita taufiq untuk mengikuti jejak dan langkah mereka dalam keadaan sehat wal afiat, tampa merubah atau mendapat cobaan dan fitnah. Sesungguhnya Dialah tuhan maha pengasih.

Madzhab maturidiyah dalam hal ini sama dengan madzhab Al Asy’ariyah  maka setiap orang yang beriman hendaknya membentengi aqidahnya dengan mengahafal (mempelajari) salah satu aqidah yang disusun oleh seorang imam yang telah disepakati keagungannya serta kedalama ilmunya. Saya rasa orang yang mencari pelajaran aqidah semacam itu tidak akan mendapatan selengkap dan sejelas aqidah yang disusun oleh Imam Al Ghozali Ra. Disamping jauhnya aqidah itu dari hal hal yang meragukan serta terhindar dari ungkapan ungkapan yang bisa menimbulkan salah faham. Aqidah ini telah disampaikan pada bagian awal dari kitab Qowaidl Al Aqo’id  dalam kitab Al Ihya’ Lil Imam Ghozali. Maka hendaklah anda mengahafalnya atau mempelajarinya. Adapun jika anda kurang puas (dengan kitab itu) hendaklah anda mempelajari Arrisalah Al qudsiyah yang tersurat pada fasal ketiga dari kitab Ihya tersebut.

Dalam hal ini, anda hendaknya tidak terlalu berlebihan dalam mempelajari ilmu “tauhid” serta tidak perlu terlalu banyak memperbincangkannya dengan semata mata mencari hakikat kebenaran tenang ketuhanan, sebab anda tidak akan memperoleh melalui ilmu ini. Adapaun jika anda ingin mencapai tingkat ma’rifat hendaknya anda mengikuti thorikoh yang ditempuh para salaf (pendahulu kita), yaitu dengan berpegang teguh pada ketaqwaan baik lahir maupun batin, merenungi dan mentadabburi ayat ayat Al qur’an, hadist hadist nabi serta riwayat orang orang sholeh, berfikir tentang kerajaan langit dan bumi dengan tujuan mengambil pelajaan daripadanya, mendidik akhlaq serta memperhalus budi yang kasar melalui latihan latihan rohani (riyadloh), membersihkan cermin kalbu dengan banyak berdzikir, berpaling dari soal soal yang melalaikan dari hal hal tersebut. Apabila telah menempuh jalan ini, Insya Allah anda akan mencapai tujuan itu serta akan memperoleh apa yang akan diharapkan

Habib abdulloh banyak menguraikan hal hal.yang kami sebutkan di atas baik dalam kumpulan ceramah ceramah (majmu kalamihi) maupun dalam karya karya beliau yang lain yang telah beliau susun .mereka yang merujuk kepadanya

Habib Abdullah bin thohir  bin husin telah pula menguraikan apa yang kami sebutkan tadi pada sebuah risalah yang telah beliau susun , nukilannya disebutkan oleh habib idrus bin umar al habsy dalam kitabnya “iqdul ya waqit al jauhariyah”  sedang al habib idrul al akbar cukup menyebutkan aqidah yang disusun oleh syekh Abdullah bin As’ad al yafi’I dalam bentuk sya’ir.

Dalam bebrapa fasal dalam kitabnya Al idrus menegaskan : “Barang siapa meyakini hulul (menetesnya ruh Allah dalam diri mahluk) atau menyatunya tuhan dengan mahluk (wahdatul wujud), maka orang ini telah menjadi kafir”. Dalam sebagian fasal yang lain beliau menulis : aqidah yang kita anut adalah aqidah Asy’ariyah dan madzhab kita dalam fiqih (hokum hokum agama ) adalah madzhab syafi’i, sesuai dengan kitab Allah (Al Qur’an) serta sunnah Rosulullah.

Penulis (Habib Alwi b. Thatir) berkata :
“Imam Annaqib Muhammad b. Ali Uraidhi pernah juga ditanya tentang hal semacam itu dan
beliau juga memberi jawaban sama dengan jawaban datuknya. Dengan soal – soal semacam ini dan soal – soal lain orang dapat mengambil kesimpulan bahwa beliau tidak tergolong pengikut Madzhab Syi’ah Imamiyah (yang berpendirian bahwa talak tiga yang diucapkan sekaligus dihit-ung satu talak) seperti mereka yang mendasarkan pendapatnya pada perkiraan dan dugaan semata.
Hal itu diriwayatkan oleh Muhammad b Manshur Al – Kufi Al – Muradi dengan sanadnya kepada Imam Ja’far Asshadiq melalui riwayat Husain b. Zaid b. Ali dari Imam Ja’far.
juga melalui riwayat Abu Dhamrah, Hatim, Abu Hamzah, Ibrahim b. Yahya dan Assariy b. Abdillah Assulami serta Muhammad b. Ja’far telah meriwayatkan kepadaku dari ayahnya abu Ja’far, bahwa seseorang bartanya kepadanya, katanya dia telah menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus. Beliau menjawab : “Engkau telah melakukan kesalahan dan bertanggung jawab atas kesalahan itu.(yakni talak itu berlaku).
Orang yang dimaksud dengan Muhammad b. Ali adalah Muhammad A-Azraq kakek Imam Ahmad Al-Muhajir dan Muhammad b. Ja’far adalah paman Muhammad ini, terkenal dengan julukan Addibaj. Beliau inilah yang pernah dibai’at sebagai Khalifah pada masa ber-kecamuknya perang saudara antara Amin dan Ma’mun (putra – putra Harun Al-Rasyid). Keponakannya Muhammad b. Ali Uraidhi yang terkenal dengan julukan Al-Azraq adalah di antara orang-orang yang telah membai’atnya, demikian pula saudaranya Ali Al-Uraidhi. Muhammad b. Manshur brkata : Abu Kuraib meriwayatkan kepada kami dari Hafsh b. Ghiats katanya : Saya mendengar Ja’far b. Muhammad berkata : Barangsiapa mengucapkan talak tiga , maka akan berlaku baginya talak tiga. Itulah pendirian kita Ahlul Bait. Barangsiapa mengucapkan talak tiga akan jatuh tiga”.
Muhammad b. Manshur berkata : “Saya bertanya kepada Ahmad bin Isa Bin Zaid, tentang seorang yang mengucapkan talak tiga terhadap terhadap isterinya. Ahmad bin Isa menjawab : “Berlakulah talak itu dan bercerailah dia dari isterinya. Kita tidak berpendirian seperti golongan Rafidhah”.
Semua riwayat tersebut bersumber dari kitab “Badai” il Anwar Fi Ikhtilafi U’lama’iAhlil Bait”. Karya Muhammad b. Manshur Al Muradi.
Mengapa soal Aqidah ini diuraikan secara panjang lebar?
Mungkin ada orang yang merasa heran membaca apa yang talah kami tulis di sini tentang aqidah para Sadah Al Alawiyin, sebab hal itu merupakan sesuatu yang banyak diketahui orang. Tersurat dalam karya-karya tulis dan biografi mereka baik yang ditulis oleh mereka sendiri maupun yang ditulis oleh orang lain yang bertindak menguaraikan ihwal dan prilaku mereka.
Perlu kami kemukakan di sini, bahwa yang menjadi sebab mengapa kami berbuat demikian, ialah bahwa pada zaman ini, zaman yang penuh dengan hal-hal yang aneh dan ganjil – ada tokoh tertentu yang bertindak melakukan pembelaan terhadap golongan Imamiyah dan Madzhabnya serta menyanggah golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah, demi untuk membela Madzhab mereka, bahkan juga telah menyanggah golongan Syi’ah Zaidiyah, karena perselisihan yang terjadi sejak dahulu di antara kedua golongan Syi’ah tersebut. Menurut golongan Imamiyah – atau sebagian mereka golongan Zaidiyah ini adalah golongan yang wajib lebih dahulu diperangi sebelum orang-orang kafir, sesuai penafsiran bagi ayat ini
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………
“Hai orang-orang beriman perangilah orang-orang kafir di sekitarmu dan hendaknya mereka mendapatkan kekerasan dari padamu”. Maka demi memenuhi perintah untuk bertindak keras, mereka telah membunuh anak-anak dan orang-orang yang tidak terlibat langsung dalam peperangan, persis seperti yang pernah dilakukan oleh golongan Khawarij.
Itulah salah satu sebab yang menimbulkan bencana dan pemberontakan secara beruntun dan terus menerus di negeri Yaman – karena adanya golongan Imamiyah di Harran, di Najran dan di Aden, disamping beberapa tempat yang lain.
Oleh karena itu, maka tokoh pembela golongan Imamiyah ini telah secara suka-rela melakukan tindakannya itu dalam membela mereka dari golongan Zaidiyah disamping golongan Asy’ariyah, bahkan dia telah melakukan tindakan yang tidak patut dilakukannya, yaitu menjauhkan para pendahulunya (Salaf) dari Aqidah dan Thariqah yang benar, dengan mengatakan mereka sejak semula adalah penganut Madzhab Imamiyah alias “Rafidhah”
Golongan Imamiyah ini adalah golongan yang berpendirian bahwa sebagian besar sahabat Nabi SAW – kecuali beberapa saja – telah menjadi fasiq dan kafir. Dengan demikian mereka telah menolak riwayat yang tegas lagi benar dan telah diriwayatkan oleh sebagian besar ahli-ahli sejarah bahwa mereka bukanlah penganut Madzhab Imamiyah, dia menyanggah anggapan yang tidak dapat diterima ini dengan angan-angan yang bertolak belakang dengan dengan kenyataan, serta dengan rekaan-rekaan yang tidak benar lagi tidak terpuji, dan usaha coba-coba yang bila dinilai dengan fikiran yang sehat, bukti dan fakta yang kuat, tidaklah dapat digolongkan sebagai kebenaran.
Rupanya orang ini telah tertipu oleh propaganda golongan Imamiyah yang ekstrim tanpa meneliti falta yang tersembunyi di balik permukaan dan tanpa pendalaman dengan akal sehat secara semestinya.
Golongan Imamiyah termasuk di antara golongan umat ini yang telah terpecah-pecah dan tercabik-cabik, sehingga ada yang menyatakan bahwa pecahan-pecahan itu telah mencapai lebih dari tujuh puluh golongan. Di tengah-tengah golongan ini teleh timbul berbagai faham yang tidak pernah terdengar kekejian semacam itu pada golongan- golongan lain, seperti menitisnya Roh Allah pada sebagian makhlik (hulul), faham reinkarnasi (tanasukh Al Arwah), adanya faham raj’ah (kebangkitan kembali orang yang telah mati sebelum kiamat), menafsirkan arti-arti syari’at yang tegas dengan tafsiran-tafsiran yang membatalkannya. Mereka balik perintah agama dengan meninggalkan perintah itu dan menjalankan larang-larangannya. Menganggap semua benda yang berbentuk bernyawa. Mena’wilkan ayat ayat Al Qur’an dengan penafsiran yang tidak berdasar, memberikan pangkat ketuhanan pada sebagian Imam-Imam mereka. Tidak berlakunya sebagian kewajiban agama atas mereka. Batalnya hukum-hukum dan amalan. Di tengah merea telah muncul golongan-golongan Majusi yang berkedok Islam dan menyembunyikan kekafirannya dan para Dajjal yang menipu atas nama agama ……. Di tengah mereka telah muncul pula golongan yang ber faham Wahdatulwujud (pantheisme). Mereka mengakui reinkarnasi dengan berbegai tingkatannya seperti yang diyakini pleh sebagian faham Majusi. *
Golongan Imamiyah telah menyatakan faham-faham yang aneh sejak zaman Imam Asshadiq, bahkan sejak sebelum itu (Imam Asshadiq selalu menyatakan berlepas diri dari mereka dan mengingkari hubungan mereka dengan beliau) Mereka juga berpendirian mena’wilkan sahnya kedudukan Imam tanpa dibai’at tanpa pembela, tanpa pendukung tanpa menyatakan diri sebagai pemimpin, tanpa menunjukkan amal yang bisa menjadi contoh tauladan, atau ilmu yang terbesar luas untuk member petunjuk dan pelajaran, tanpa menjalankan hukum agama tau melaksanakannya, tanpa memiliki kekuasaan atau kekuatan. Lalu mereka beranggapan bahwa kedudukan Imam ini menyerupai makam (pangkat) wali quthb, yang diakui oleh golongan A’lawiyin. Seolah orangini tidak tahu bahwa makam quthbaniyah adalah salah satu tingkat dan pangkat dalam faham Tasawuf, sedang golongan Alawiyin baru mengikuti faham Tasawuf pada abad ke VII Hijriyah, setelah aliran ini tersebar luas di seluruh dunia Islam.
Hal ini rasanya perlu diperpanjang. Kendati demikian, kami tidak berputus asa dan tetap mengharap semoga Allah memberi petunjuk kepada orang yang kami sebutkan itu kembali menempuh jalan yang benar serta lebih layak baginya, dengan anugerah dan rahmat dari Allah.
Walau demikian, namun bukanlah merupakan tindakan yang benar dan prilaku yang terpuji apabila seseorang mengikuti suatu faham, atau melakukan tindakan yang salah dalam cara berfikir lalu dia menganggap orang lain yang sebenarnya tidak berfaham demikian – sebagai telah mengikuti faham itu. Tuduhan demikian demikian ini bahkan dilancarkan terhadap orang-orang yang telah menghadap Tuhannya (wafat) serta akan memikul beban tanggung jawab amal perbuatan yang pernah dilakukan, sedang sejarah telah mencatat prilaku mereka, menerangkan hakekat Aqidah dan keyakinan mereka, sehingga tidak sepantasnyalah menuduh para Salaf itu dengan hal-hal yang sesungguhnya Allah telah mensucikan mereka dari padanya, atau menghubungkan faham-faham yang menyimpang ini kepada mereka.
· Untuk menunjukkan betapa besar dan dalam pengaruh tradisi, kebudayaan dan nasionalisme Iran pada Madzhab Syi’ah Imamiyah Itsana ‘Asyoriyah ini, adalah apa yang ditulis oleh Hamid Eneyat dalam bukunya : “Reaksi Politik Sunni Dan Syi’ah. Pemikiran politik Islam Modern Menghadapi Abad ke 20” Penerbit Pustaka Bandung 1408 – 1988 p. 281, sebagai berikut :
“Drama tersebut (terbunuhnya Imam Al Husain) juga bias memperoleh arti penting lain dalam konteks khusus budaya Iran, bukan hanya karena adanya warna-warna nasionalistik anti Arab, atau anti Turki dalam versi-versi populernya, tetapi juga karena peleburannya dalam budaya rakyat dengan mitos Darah Siavush dari masa pra-Islam, seperti tercatat dalam karya Firdausi, Shahnameh. Himne-himne keagamaan kaum Alawi, Ahli Haqq menggambarkan bagaimana Roh Luhur Manusia Sempurna menitis dari Habil, melalui Jamsyid, Iraj dan Siavush kepada Husain. Meskipun mengandung cirri-ciri yang sama sekali berbeda, mitos Siavush didasarkan kepada gagasan identik mengenai “tertumpahnya darah manusia tak berdosa yang menangis abadi meminta pembalasan. “Tetapi, sementara legenda Husain melahirkan aspirasi keadilan yang pada intinya bersifat politis, maka legenda Siavush mengilhamkan keyakinan akan adanya pembalasan dendam universal yang menjamin keadilan bagi jiwa-jiwa tertindas.”


4 Tanggapan ke “Aqidah dan Thoriqoh Salaf Al Alawiyyin”


  1. Oktober 14, 2011 pada 3:14 am

    keturunan nabi harus mengikuti ajaran Thoriqoh alawiyyin yaitu ajaran abahnya, jidnya terus sampai Rosulullah saaw, saya sangat setuju dengan pendapat itu, jadi kl ada yg meninggalkan ajaran ayahnya ,jidnya akan masuk golongan yg salah, siapapun itu, tidak boleh mengikuti ajaran selain dari abahnya , jidnya sampai rosulullah.

    ini logika yg benar dan layak diikuti, oleh karena itu imamnya harus dari keturunan nabi, tidak boleh selain keturunan nabi, ikut madhabnya madhab yg imamnya keturunan nabi, ikut ajarannya ajaran keturunan nabi.

    Jika ada yg bermadhab yg imamnya bukan keturunan nabi pasti mengikuti ajaran yg salah.

    sangat setuju dengan pendapat itu.

    Hai para habaib mari kita konsekwensi dengan keyakinan ini, jangan sampai keluar dari keyakinan ini, nanti bisa jadi salah dan menentang kakek2 kalian salafu sholeh .

  2. 3 abdullah
    April 5, 2011 pada 8:00 am

    Kitab Al Ajwibah Addamighoh fi arrod al aqo’id azza’ighoh lil Imam Habib Zain Bin Smith Madinah. Almultarjim Al habib Zaid Al hamid . Segala puji bagi Allah tuhan sekalian alam. Sholawat dan salam semoga selalu dilimpahkan Allah kepada Nabi dan Rosul termulia, sayyidina Muhammad dan keluarganya serta semua sahabatnya. Selanjutnya ini adalah pertanyaan pertanyaan yang baqnyak beredar diantara orang orang disertai jawaban jawabanterhapnya yang cukup untuk menghilangkan subhat (kesamaran) dan menguhkan kebenaran di dalam hati kaum muslimin. Kami mohon kepada Allah agar memberi manfaat dengannya dan mematikan kita diatas agama islam dan aqidah yang benar dan bersih. Tanya : Apa arti tasyayyu’ dan siap[akah syiah itu ? Jawab: Arti tasyayyu’ menurut bahasa dan mengikuti. Asal katanya dari al musyayya’ah yang berarti menaati dan mengikuti. Sayiah ialah orang orang yang mengaku pecinta ahlul bet secara berlebih lebihan hingga keluar dari batas syareat. Mereka menganggap bahwa mereka adalah pengikut tokoh tokoh ahlul bait seperti Al Imam Ali Al Hasan dan Al Husain, Ali ibnu Husain dan Ja’far Asshodiq dan selain mereka. Semoga Allah meridloi mereka, namun pada saat yang sama mereka berlepas diri dari Abu Bakar, Umar , Ustman dan Mu’awiyyah semoga Allah meridloi mereka dan para pembela mereka. Maka kaum syiah mencaci maki dan melaknat mereka. Tanya : Tolong ceritakan asal syiah dan awal kemunculan mereka ? Jaawab : Ketika terjadi perselisihan yang masyhur antara Al Imam Ali bin Abi Tholib dan Mu’awiyah Bin Abi Sufyan, kaum majusi dan yahudi menggunakan kesmpatan ini untuk memecah belah persatuan kaum muslimin dan menimbulkan fitnah permusuhan diantara mereka. Maka orang yahudi Abdullah bin syaba’ menampakkan kecintaannya kepada Ali bin Abi Tholib Ra. Dan menganggap dia yang paling berhak menjadi kholifah. Abdulah bin saba’ melampau batas dalam hal itu hingga menjadikan Ali sebagai tuhan sebagaimana kaum yahudi melampau batas mengenai nabi Uzair dan mengatakan : Uzair putera Allah. Dan sebagaimana kaum nasroni mengatakan : Al masih putera Allah . Abdullah bin saba’ berkata kepada Ali Ra. ”engkau ! ya’ni : engakau adalah tuhan” maka Ali mengasingkannya ke mada’in. Abdullah bin saba’ adalah orang pertama yang mengatakan adanya nash tentang imamah Ali Ra. Kemudian faham itu bercabang cabang menjadi macam macam golongan ekxtrim hingga mereka mengatakan : sesungguhnya Ali Ra lebih berhak dan lebih utama atas kenabian dan risalah dari pada Muhammad SAW. Dan Allah ta’ala mengutus Jibril kepada Ali, tetapi keliru dan menurunkan wahyu kepada Muhammad SAW.

    Inilah asal kemunculan syi’ah dan awal pendiriannya oleh orang yahudi tersebut yang mengatakan bahwa khilafah sesudah nabi SAW adalah hak Ali. Setiap nabi mempunyai washi dan Ali Ra adalah washi Rosulullah SAW. Akan tetapi para sahabat setelah wafatnya Rosulullah SAW berkomplot dan merampas hak Ali untuk menjabat kholifah. Maka mereka menetapkan Abu bakar sebagai kholifah bukannya Ali, kemudian Umar, kemudian Ustman. Demikianlah para kholifah ini dan sahabat sahabat yang lain bersekutu dalam mencuri khilafah dari pemiliknya yang haqiqi, yaitu Ali dan anak anaknya sesudahnya. Kesimpulannya : orang yahudi yang bernama Abdullah bin saba’ adalah yang meletakkan dasar tasayyu’ dan menebarkan benih benihnya. Orang alim syi’ah yang diandalkan al kissyi mengatakan dalam kitabnya ”Rijal Asyi’ah” : ” sebagian ahli ilmu menyebutkan bahwa abdullah bin saba’ asalnya penganut agama yahudi kemudian masuk islam dan mengikuti Ali Ra. Ketika masih beragam yahudi, ia telah menunjukkan ke esktrimannya dengan mengatakan mengenai yusa’ bin nun bahwa ia adalah wasyi musa AS. Setelah masuk islam dan sesudah wafatnya Rosulullah SAW , ia mengatakan adanya pengangkatan ali sebagai imam dan menampakkan permusuhan kepada lawan lawannya. Dari fakta itu dapat diketahui bahwa benih tasayyu’ disirami dengan air ajaran yahudi dan nashroni. Asyekh Al Allamah Yusuf bin Isma’il An Nabhani mengatakan dalam kitabnya Nujumul Muhtadin fi Arrodl Ala Ihwan Assyayathin : sesungguhnya kaum rofidloh adalah kelompok yang muncul sejak 25 tahun setelah wafatnya nabi SAW. Mereka adalah kelompok yang mengikuti ajaran yahudi dan nashroni dalam hal dusta, kedzaliman , kefasikan dan amal amal mereka yang lain. Mereka adalah orang orang yang diselundupkan kaum yahudi di negeri negeri arab pada masa yang lalu. Mereka dipimpin oleh seorang lelaki yang asalnya beragama yahudi bernama abdullah bin saba’, pemimpin rofidloh di kufah. Ia melihat kaum muslimin bersatu dan rukun. Maka ia ingin memcah belah diantara mereka dalam kelompok kelompok supaya lenyap kekuatan mereka. Maka ia berpura pura masuk islam dan bersikap munafiq di bumi dengan berusaha merusak kaum muslimin. Ia pergi ke kufah , bashroh irak dan persia menyeru orang orang untuk menganut madzhabnya. Ia menamainya madzhab syia’ah. Abdullah bis saba’ adalah orang pertama yang menampakkan tasayyu’ untuk memusuhi kaum muslimin dan menyuruh orang orang mencintai Ali Ra. Dan ahli baitnya disamping membenci Abu Bakar, Umar dan Ustman. Yang lain mengatakan : ”mereka menipu orang orang persia sehingga menjadi penganut Ali bin Abi tholib karromallahu wajhah dan ahli baitnya dan menganggap imam imam itu maksum [terpelihara dari kesalahan ] Orang orang persia itu mencintai mereka secara berlebih lebihan hingga meningkat menjadi kufur dan zindiq dengan mencaci dan mengkafirkan Abu bakar ,Umar ,Utsman serta pembela mereka.selanjutnya kelompok itu tersiar dan tersebar di negeri negeri Arab dan bukan Arab sampai sekarang TANYA Apa sebab syi”ah dinamakan Rafidhah Jawab Sebabnya ialah ketika ZAID BIN Ali Zainal Abidin ibnu Husain r.a berontak melawan Hisyam bin Abdumalik .Maka pasukan Zaid menderita kekalahan setelah sebagaian besar dari merika meninggalkannya.Banyak orang Kuffah membaiatnya dan memintak darinya agar berlepas diri dari Abu bakar dan Umar supaya mereka menolongnya .Namun Zaid menjawab :Tidak ! akan tetapi aku membela kedua orang itu .Maka mereka berkata :Kalau begitu , kami menolakmu.Zaid berkata : ”pergilah , kalian adalah rofidloh (kaum penolak)”. Sejak itu mereka dinamai rofidloh. Asyekh Al Allamah Muhammad bin Ali Assyabban sebutkan kisah itu dalam kitabnya ”Isyaff Arroghibin” Al Usmu’i berkata : ”mereka dinamakan begitu karena meninggalakan Zaid bin Ali.

  3. 4 Faidzur Rahim Asy- Syatri
    Desember 22, 2010 pada 1:14 pm

    Siapakah Kaum Alawiyyin

    Tokoh penting pertama dari kalangan Alawiyyin yang datang dan menetap di Hadramout ialah Imam Ahmad bin Isa (al-Muhajir) bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Bagir bin Ali Zein al-Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Terdorong oleh kekacauan dan teror yang meluas dan melanda kota Basrah dan sekitarnya yang tidak mampu diatasi oleh pemerintah Abasiyah, di samping pengejaran dan penindasan yang terus-menerus dialami oleh kaum Alawiyyin dan pengikut mereka akibat ulah penguasa yang tiran yang telah menginjak-injak nilai-nilai ajaran Islam yang luhur, maka Imam Ahmad bin Isa memutuskan untuk meninggalkan negri Iraq, tempat asalnya. Perlu di ketahui Imam Isa An-naqib ayahanda Imam Ahmad adalah ketua kaum Alawiyyin di Basrah, lalu beliau beserta rombongan menuju Madinah al-Munawwarah dan tinggal di sana selama setahun, kemudian menunaikan haji pada tahun 318 H, dimana beliau tidak mencium hajar aswad karena di sandera dan dipindahkan dari Mekkah oleh golongan syi’ah sekte Qaramithah. Setelah selesai menunaikan hajinya beliau terus menuju ke Yaman dimana sebelumnya telah mengadakan kontak dengan penduduk Yaman yang datang berhaji. Di antara tempat yang dilaluinya ialah al-Jubail di suatu lembah Dau’an. Hal ini dilakukan demi menyelematkan diri dan anak-cucunya dan menghidupkan kembali dan mengembangkan ajaran Islam sebagaimana yang telah dilakukan tiga abad yang lalu oleh datuknya, Rasulullah Saw, ketika beliau hijrah dari Mekkah ke Medinah (itulah sebabnya ia kemudian dijuluki “Al-Muhajir”).

    Ketika Imam Ahmad bersama rombongannya tiba di Hadramout beliau tidak memiliki rumah-rumah, tanah, atau ladang pertanian, tetapi orang-orang dari kalangan Ahlus sunnah dan Syi’ah datang menghadap beliau, sementara orang-orang Abadhiyah dari kalangan Kindah dan al-Maharah menentang kehadiran beliau di Hadramout. Para ahli sejarah menyebutkan tentang terjadinya pertempuran Bahran di antara orang-orang Abadhiyah di satu pihak dan Ahlus sunnah dan Syi’ah di pihak lain. Orang Abadhiyah berusaha menyingkirkan Imam Ahmad dari Hadramout sementara orang-orang Syi’ah menghendaki beliau tinggal di sana. Akhirnya kemenangan berada di pihak penyokong-penyokong Imam al-Muhajir yaitu kemenangan antara Ahlus-sunnah dan Syi’ah dan tewaslah orang-orang Abadhiyah.

    Imam Al-Muhajir mempunyai empat orang putra, yaitu Ali, Husein, Ubaidillah, dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya dari Basrah ke Hadramout sedangkan saudara dan anggota keluarga lainnya masih tetap di Basrah. Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir mendapat seorang anak yang bernama Alwi. Ia adalah anak pertama dari cucu-cucu Imam Al-Muhajir yang dilahirkan di Hadramout, dinamakan dengan nama ini karena dinisbahkan kepada Imam Ali Ali bin Abi Thalib dan tidak ada seorang pun membantu atas pemberian nama ini, maka kepada Imam Alwi inilah kemudian dinasabkan SADAH di Hadramout. Karena itu para keturunan mereka disebut dengan Alawiyyin atau ‘Ba’alawi’.

    Mazhab al-Muhajir dan Keturunannya

    Beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Al-Muhajir adalah seorang Sunni bermazhab Syafi’i, seperti yang ditulis oleh Mufti Johor Sayid Alwi bin Thohir al-Haddad dan Sayid Abdullah Bilfagih. Tetapi pendapat tersebut dibantah oleh beberapa sumber sejarah lainnya, seperti yang ditulis oleh Mufti Hadramout Allamah Abdurrahman bin Ubaidillah Assegaf dalam kitabnya Nasim Hajir dan Sayid Saleh bin Ali al-Hamid dalam kitabnya Tarikh Hadramout, bahwa Al-Imam al-Muhajir mengikuti mazhab para leluhurnya, para Imam dari kalangan Ahlul Bait seperti Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Muhammad al-Bagir, Imam Ali Zein al-Abidin, Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib. Berdasarkan pendapat ini pula beberapa sumber sejarah menyebutkan bahwa Imam Ahmad bin Isa al-Muhajir menganut mazhab Syi’ah Imamiyah.

    Dalam masalah mazhab ini telah terjadi polemik, masing-masing Ulama dan peneliti sejarah memiliki argumentasi yang berbeda, kalau dilihat dari kurun hidup dan silsilah Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shodiq sebagian peneliti sejarah mengatakan bahwa Imam Isa ar-Rumi ayahanda Al-Muhajir adalah cucu dari Imam Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shaodiq dimana Imam Ali al-Uraidhi sezaman dengan Imam Musa al-Kadzim dan Imam Syafi’i, bahkan disebutkan Imam Ali al-Uraidhi selain berguru kepada Ayahnya Imam Ja’far ash-Shodiq juga kepada saudaranya Imam Musa bin Ja’far ash-Shodiq serta Husein bin Zaid bin Ali Zainal Abidin dan apakah mungkin Imam Ali Uraidhi berguru kepada yang lain? sementara para Imam Ahlul Bait adalah orang yang lebih utama dari semua segi. Kalau mazhab Imam Ali Uraidhi adalah mazhab Ahlul Bait apakah juga mungkin generasi ketiganya yaitu Imam Isa ayahanda Imam al-Muhajir menyelisihi mazhab para leluhurnya yaitu Ahlul Bait walaupun Imam Almuhajir sendiri adalah seorang mujtahid yaitu orang yang layak diikuti ketimbang mengikuti (muqallid). Penelitian demi penelitian harus terus diupayakan dengan penuh kejujuran dan obyektifitas agar generasi alawiyyin selanjutnya tidak hidup dalam suasana saling mencerca dan menyalahkan, akhirnya kepada Allah jualah kita akan kembali.

    Betapapun juga dalam kenyataannya, daerah Hadramout waktu itu sebagian besar dikuasai oleh mazhab kaum Khawarij dari kelompok Abadhiyah yang sangat tegar dan ekstrem dalam menerapkan hukum-hukum sya’riat berdasarkan pendapat mereka sendiri tentunya—di samping sangat membenci Imam Ali bin Abi Thalib, keluarga serta para pengikutnya. Kemudian mereka secara lahir menganut mazhab Syafi’i, dalam kamus Al-Munjid edisi lama, ada kata Hadramout ditulis begini : “Sukkanuha Syi’iyuna Syafi’ina” penduduknya adalah orang-orang Syi’i yang bermazhab Syafi’i, dan kitab Al-Munjid itu merekam mereka. Dari Hadramout inilah menyebar para penyebar Islam yang pertama, khususnya kaum Alawi, orang-orang keturunan Sayid. Mereka datang dari berbagai keluarga ke Indonesia dan menyebarkan Islam. Itulah sebabnya kaum Alawiyyin di sana, lambat laun sepakat mengikuti aliran Ahlussunah wal jama’ah, dalam hal ini mazhab Syafi’i, dipilihnya mazhab Syafi’i, karena dianggap amat dekat dengan mazhab Ahlul Bait, mengingat bahwa sikap seperti ini dapat memperlancar penyiaran ajaran Islam sepenuhnya serta mengurangi kebencian para pembenci Ahlul Bait kepada mereka. Meskipun demikian mereka tidak sepenuhnya sejalan dengan mazhab Syafi’i seperti dalam masalah hukum fiqih, contohnya dengan transaksi-transaksi kerjasama dan lain sebagainya. Adakalanya dalam satu masalah mereka bersesuaian dengan mazhab Syi’ah sementara mereka bertentangan dengan mazhab Syafi’i. Sudah barang tentu mereka tidak bertaklid buta kepada Syafi’i mengingat Imam Ahmad bin Isa sendiri adalah seorang yang terkenal luas ilmunya, memiliki kemampuan melakukan istimbath langsung dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw yang kedua-duanya juga merupakan dasar dan landasan pemikiran Imam Syafi’i ra.

    Dalam perkembangan selanjutnya, kebijaksanaan yang ditempuh kaum Alawiyyin tersebut, di samping akhlak nabawiyyah yang menghias diri mereka seperti keramahtamahan, kedermawanan, kejujuran, tawadhu’ dan takwa, segera mendatangkan hasil sangat mengagumkan. Banyak dari penduduk di pelosok-pelosok yang tadinya tidak mengetahui sesuatu tentang Islam kecuali namanya saja, kini datang belajar ketentuan-ketentuan agamanya dari kaum Alawiyyin, sehingga dari mereka muncul ulama-ulama besar di berbagai ilmu. Beberapa keluarga terkemuka (bukan Alawiyyin) di sana yang sejak semula tergolong Ahlussunnah, menjalin hubungan erat dengan kaum Alawiyyin, baik di bidang ilmu maupun kekeluargaan. Mereka bukan saja belajar dari tokoh-tokoh ulama Alawiyyin, tetapi sebagian mereka bahkan menjadi syekh-syekh bagi sebagian kaum Alawiyyin sendiri. Mereka itulah tokoh-tokoh wali dan ulama besar dari keluarga Bafadhal, Bajammal, Basyarahil, Al-Amudi dan lain-lain.

    Alawiyyin dan Tasawuf

    Pada umumnya tokoh-tokoh kaum Alawiyyin menerapkan ajaran tasawuf. Namun tasawuf di kalangan Alawiyyin tidaklah mengikuti tarekat-tarekat tertentu seperti yang dipraktekan oleh sebagian tarekat, seperti yang banyak kita kenal sekarang ini. Mereka manghindarkan diri dari segala lambang dan upacara yang mengada-ada seperti yang diriwayatkan oleh beberapa tokoh Sufi.

    Tasawuf di Hadramout berintikan ibadah, zikir, akhlak dan zuhud, lebih banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan disampaikan secara langsung oleh syekh kepada murid-muridnya daripada diperbincangkan dan dipelajari secara teoritis. Tokoh-tokoh Sufi di kalangan Alawiyyin memilih jalan tengah dalam aliran tasawuf mereka. Tidak bersifat ekstrem tetapi tidak pula mengabaikan ajaran-ajarannya yang murni dan berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. Demikian itulah para salaf Alawiyyin menempuh jalan ini serta mengamalkan ilmu yang telah mereka kuasai. Mereka menghabiskan usia yang berharga seraya menjauhkan diri dari segala kesibukan lain yang merugikan akhiratnya demi mengikuti Sunnah Nabi Saw dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu perbedaan – perbedaan yang termasuk furu’ dan bersifat khilafiyah tidak mendapat tempat dalam pemahaman kaum Alawiyyin, karena bisa berakibat lemahnya persatuan umat,”orang-orang yang mengerti “ berkata: “Tasawuf ialah mengamalkan setiap perilaku luhur dan meninggalkan setiap perilaku buruk”. Bukankah berbantah-bantahan adalah perilaku tercela yang menjadikan kita lemah dan hilang kekuatan.

    Berdasarkan itu para tokoh Sufi di Hadramout terutama dari kalangan Alawiyyin beranggapan bahwa zuhud bukan berarti kebencian atau penolakan terhadap kekayaan harta duniawi, tetapi semata-mata pembebasan jiwa dari keterikatan kepada dunia dan kerakusan dalam meraih kelezatannya, apalagi terlarang dalam agama. Banyak dari mereka tak segan-segan terjun dibidang perdagangan, pertanian, perkebunan dan sebagainya, dan tidak sedikit pula dari mereka yang memiliki penghasilan cukup besar, bahkan amat besar, dari usaha-usaha tersebut ataupun usaha-usaha halal lainnya. Namun dalam kehidupan sehari-hari ia tetap amat bersahaja, sementara kekayaannya digunakan untuk melayani masyarakat, berupa pembangunan masjid-masjid dan ribath-ribath, juga untuk menjamu para tamu dan perantau yang sering berdatangan dari berbagai penjuru, membantu fakir miskin serta usaha-usaha sosial lainnya.

    Mudah-mudahan dengan pengantar yang singkat ini akan membuka mata hati kita, untuk tetap dan terus menjadikan mereka suri teladan, sumber hikmah dan pengetahuan, dan menempatkan meraka pada pemahaman yang benar, dengan pemahaman sejarah yang benar maka diharapkan kita akan lebih arif dalam menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita sesama umat Islam. Janganlah kita mengecam atau meyakini sesuatu sementara kita berada dalam ketidaktahuan. Akhirnya hanya kepada Allah jualah kita kembali dan mengharap pertolongan. Wallahu A’lam

    


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.